Untuk Yang Mau-Mau Aja

“Human existence is scary & confusing.”

“Gue bukannya mau mati, ya. Tapi, ngapain si kita hidup? Ntar juga kita akan mati, kan?” kataku dengan dramatis. Kedengarannya aja dramatis. Muka sih tetap datar. Sudah jam 11 malam, di pelataran Indomaret. Ga ada warkop buka di jam segitu, masa pandemi.

Dengan matanya yang sinis tapi overall ga kalah datarnya itu, ia berujar, “Kalau lu hidupnya masih lama, gimana?”

Dari kilatan di matanya, aku tau kalau aku sudah keterlaluan.

_____

Aku memandang langit-langit kamar. Pernah, aku terbangun mengangkat telepon di pagi buta karena seorang teman ingin mengakhiri hidupnya. Dan untuk seorang yang sangat-sangat apa adanya, aku berbohong dengan lancar untuk membuatnya mau tetap bernapas, bahkan untuk semalam saja.

Satu link youtube, dikirim. Aku membuka dan kalimat pertamanya, sangat menarik.

“Human existence is scary & confusing…”

“A few hundred thousand years ago, we became conscious and found ourselves in a strange place. It was filled with other beings….”

Saat aku kecil, banyak yang aku pertanyakan di dunia ini. Namun, aku tidak punya privilege untuk menemukan jawabannya dari orang lain. Aku pun memutuskan untuk berhenti berpikir. Terima kasih untuk doa ibu. Meski banyak manusia yang ditemui, tempat baru yang dipijak, dan situasi aneh yang mencekam, aku tetap hidup.

“But the older we got, the more we learned about the world and ourselves.”

Ada yang bilang, aku pandai membaca orang. Tidak sama sekali. Aku hanya bergerak, memutuskan, bertemu konsekuensi, dan mempelajarinya. Semua orang bilang, mari memanusiakan manusia.

Bagaimana jika, manusia sangat kompleks hingga kamu tidak bisa lagi mempelajarinya?

Bagaimana jika, kamu tidak cukup pandai untuk mengerti manusia?

“… or trillions of stars or bazillions of planets, but all of these numbers mean nothing. Our brains can’t comprehend these concepts. … The universe is too big. There is too much of it.”

Dan kamu tidak bisa lagi memprosesnya. Sebanyak apapun otakmu berputar, sekeras apapun kamu berusaha, kamu tidak menemukan jalan keluar. Kamu bahkan bukan lagi tersesat. Bukan lagi sedang berputar-putar. Semua, hanya ada gelap.

Otakmu menahanmu untuk bergerak, melihat, mendengar, atau berbicara. Kamu bahkan tidak menyadari bahwa kamu masih dikaruniai rezeki untuk menghirup oksigen, mengeluarkan karbondioksida.

“If you’re going to die at seventy, then there are two thousand three hundred and forty weeks left…

And then what?…. It will dissolve until there is no you left.”

Kita akan mati. Pasti. Satu-satunya kepastian bagi setiap manusia. Aku tertawa. Tertawa dengan sangat keras. Tampaknya, aku baru saja benar-benar bisa menerima kematian.

Otakku yang tadinya hanya mengenali gelap, seketika ditampar warna-warni ilustrasi dari video ini yang aku suka. Ungu, magenta, kuning… Aku juga menikmati setiap gerakan dari video ini yang sangat rapi. Suara naratornya bagus sekali, tidak terasa terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Membuatku tenang. Setiap kata yang ia ucapkan, sangat bijak, tapi juga jenaka. Tidak terasa menggurui sedikit pun.

“So, for once, we want to offer a different way of looking at these things… we don’t know any more about human existence than you do.”

Tidak ada seorang manusia pun, yang bisa menemukan kebenaran mutlak tentang eksistensi manusia. Tidak ada seorang manusia pun, yang bisa menilai kehidupan manusia lain yang tidak ia jalani. Namun, manusia akan terus berpikir. Manusia tidak akan berhenti beropini.

“You only get one shot at life, which is scary, but it also sets you free…”

Bagaimana jika, langit yang biru, sudah cukup. Bahkan, jika saat itu abu-abu, kamu masih bisa menunggu hari esok hingga langit kembali biru?

“But we can try to find some answers… There is so much to do.”

Bagaimana jika, tugas kita di dunia adalah menikmati karunia? *notes: selama tidak merugikan makhluk hidup lain.

“If this is our one shot at life, there is no reason not to have fun. Do the things that make you feel good.”

Mungkin hari ini aku memang belum mengerti. Mungkin otakku tidak punya kapasitas untuk mengerti dunia ini. Bahkan mungkin, aku sendiri tidak punya kapasitas untuk mengerti otak sendiri.

Bersyukurlah untuk mereka yang dikelilingi orang-orang baik. Bahkan, walaupun bukan manusia baik, bersyukurlah kamu masih menghirup udara hari ini.

____

Aku membalas chat temanku yang mengaku agnostik ini.

“So pretty~ you know me so well~”

Dan bersyukurlah, kalau kamu masih punya keyakinan bahwa ada yang lebih besar —yang otakmu mungkin belum mengerti — yang telah menciptakan bumi dan seisinya.

-el.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *