“Kalian paling takut, sama apa?” sebuah pertanyaan random dilontarkan pemuda berkaus kaki motif pisang pada dua temannya, di kiri dan kanan.
Tiga anak muda ini berdiri menunggu di depan lift. Sewajarnya coworker, mereka berniat makan siang bersama.
“Ratatui. Takut banget. Sebut namanya aja, ga mau,” jawab perempuan di sebelah kirinya. Gayanya aja kaya preman. Hoodie menutup kepalanya. Tangan di saku. Tapi ngebayangin makhluk sekecil itu aja ga berani.
“Kalau lu, apa?” sahut perempuan berkerudung di sebelah kanannya. Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya dengan senyum sumringah yang diiringi mata yang ikut tersenyum.
Ding!
Pintu lift terbuka. Lift mungil itu sudah terisi setengahnya. Mereka bertiga masuk ke dalam lift.
Sebelum pintu lift menutup, ia membenarkan letak kacamatanya dan berbisik pelan.
“Future.”
_______
Sebagai tiga orang termuda yang ada di departemen ini, sudah selayaknya saling bertukar pikiran. Sharing is caring.
“Sudah siap?” kata si kaus kaki banana, memandang kedua temannya dengan wajah meyakinkan.
Di atas meja kerja, tergeletak tiga bungkus nasi padang.
Dengan sigap, karet gelang dilepas.
Bau nasi padang menyeruak.
Nasi porsi gaban merekah.
Sayur, lauk, dan kuahnya tumpah ruah.
“Kuncinya adalah pakai dua lauk. Satu bebas. Satu telor dadar.”
Si kaus kaki banana menghancurkan telur dadar dengan lihai menggunakan jemarinya yang panjang, mencampurkannya dengan nasi. Tangan yang biasa ia gunakan untuk menggambar, kini beralih profesi untuk memenuhi hasratnya makan nasi padang.
“Gila, enak banget. Jangan lupa bumbu rendangnya,” katanya bangga.
“Woaaa,” seru kedua temannya sambil bertepuk tangan kecil dengan mata kekaguman, seperti murid baru menemukan trik baru.
“Jadi, ini ilmu yang lu dapat jauh-jauh kuliah di Florida?” kata si preman hoodie yang kalau ngomong, suka ga mikir dulu.
“Terus kenapa ‘future’?” tanya si mata senyum yang ujug-ujug ingin menyambung percakapan di lift.
Sebuah jawaban yang cukup menyentil, bagi mereka di usia yang mendekati quarter life crisis ini.
“Karena kita ga tau ke depannya gimana. Ngeri, kan?” jawabnya lancar sambil tetap makan dengan kecepatan penuh. Nasi padang di hadapannya ujug-ujug tinggal setengah.
Si mata senyum menggumam, “bener juga…”, lalu bergumul dengan pikirannya sendiri tentang masa depan.
Sementara si preman hoodie, “daaamn… kenapa gua ga kepikiran.”
____
A decade later, akhirnya si Future datang juga.
Selamat untuk mereka-mereka yang berhasil ‘sampai’.
Si mata senyum sudah menjadi ibu dari seorang anak laki-laki pintar, mengajarkannya dengan lembut bagaimana menghadapi dunia. Hal-hal yang kini telah ia miliki, menjadi harta yang tak tergantikan. Terus ia jaga sambil mempertahankan value dan identitas yang ia miliki sejak awal.
Si kaus kaki banana berkarya semakin gemilang. Tetap berbagi ilmu tentang hal yang ia sukai dan tekuni, seperti cara makan nasi padang berkontribusi ke komunitas. Meski kadang beberapa hal berjalan tak sesuai rencana, ia tetap berusaha maju dan kembali merantau ke negara lain untuk belajar bersama keluarga kecilnya.
Sementara si preman hoodie, diam-diam masih bercita-cita jadi power ranger. Masih memikirkan how Zordon works.
Lucunya, mereka yang dulu takut dengan masa depan. Kini hidup di dalamnya.
Bagi sebagian orang, ‘the future is now’ berarti pilihan hari ini akan membentuk masa depan.
Tapi, bagaimana jika sebenarnya ini tentang menikmati dan menjalani waktu sekarang dengan kesadaran penuh. Tugas kita hanya melakukan yang kita bisa hari ini, dengan sungguh-sungguh.
Dan tentang bagaimana masa depan terbentuk, kita serahkan pada Yang Maha Kuasa.
-el
Leave a Reply