Pertemuan singkat dengan orang asing bisa meninggalkan jejak yang sulit hilang. Bukan karena romantisasi. Tapi karena mereka memandangmu seperti kanvas yang kosong. Tidak ada asumsi. Tidak ada juga ekspektasi.
Aku berdiri sendiri di pantai yang sepi. Datang terlalu cepat untuk melihat matahari terbenam. Matahari masih terlalu tinggi dan terik. Pasir pantainya masih panas.
Sepanjang pantai terlihat ‘kosong’. Ga ada warung kaya kalau kita ke pantai-pantai wisata di Bali. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berusaha mencari objek menarik.
Di kejauhan, aku melihat taman. Ada rerumputan dan pohon rindang. Aku memicingkan mata. Tampak beberapa orang sedang melompat lincah di antara fasilitas olahraga dan permainan di taman.
Aku menuju ke arah mereka. Seorang pemuda sedang duduk, tersenyum dan menatap bangga melihat tiga orang temannya beraksi. Bergelantungan, backflip, kayang… oh engga. Dia kayak abang-abang, yang bangga melihat adik-adiknya berkembang. Aku mendekat.
“Boleh ikut liat ga?”
Tentu saja kehadiranku yang ujug-ujug itu menyedot perhatian yang lain. Mereka menghentikan aksi dan menatapku dengan heran. Oke. Aku terlalu ga pakai basa-basi.
“Aku mau liat sunset, tapi kepagian datengnya. Terus bosan dan liat kalian di sini. Kayanya seru. Parkour, right?”
Ia tersenyum lebar nan ramah, “Yes, sure. Aku Farid,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Ah, stupid me. Harusnya lebih sopan kalau aku mulai dengan perkenalan ya. Kubalas uluran tangannya.
“Itu Budi, Bambang, dan Bastian,” katanya sambil menunjuk ke arah tiga temannya, tentu saja bukan nama asli. Aku mengangguk sopan ke arah mereka. Setelah membalas anggukanku, mereka bertiga melanjutkan beraksi.
“Kok tau parkour?” tanyanya membuka perbincangan. Saat itu, parkour ga populer. Masih jarang dibicarakan. Hatiku kembang kempis, separuh bangga, separuh lega. Untung saja kadang-kadang aku punya wawasan random, jadi ada bahan.
“I like Jackie Chan,” sahutku.
Kaya… aneh banget ga si. Kalo di komik zaman dulu tuh udah krik krik, ada burung gagak lewat.
Ia tertawa, biar sopan aja kayanya, tapi makin terlihat wajahnya yang ramah. Beberapa orang punya privilege di raut wajah mereka, by default, tampak ‘tulus’.
Mendadak ngajak ngobrol stanger? Kesannya kayak pemberani. Padahal, ga gitu konsepnya. Ini karena impulsif ga mikir aja. Aslinya, sih, socially awkward. Tapi aku beruntung, stranger di sampingku ini punya skill bersosialisasi yang baik.
Kami berbincang. Tentang parkour. Tentang kota kecil yang ‘sepi’ dan hanya dikunjungi oleh mereka yang punya niat besar. Tentang aku yang random berada di sini seorang diri dan bertentangan dengan tipikal turis di kota ini.
Sesekali dia akan menghampiri teman-temannya yang beraksi. Memberi contoh beberapa gerakan.
Ga terasa, matahari semakin turun.
“Kayanya aku mesti ke pantai lagi. Mau sunset,” aku berpamitan. Tanpa drama, tanpa romantisasi.
Di pantai, aku duduk di atas pasir yang kering. Melihat matahari bergerak turun perlahan. Setiap kali melihat matahari terbenam, ada excitement dan perasaan lega. Sekaligus ada setitik rasa sedih. Sama kontradiktifnya dengan ‘aku suka sendiri, tapi aku benci kesepian’.
And that was my day, I thought.
Aku membalikkan badan, dan dari kejauhan kulihat Farid dan teman-temannya melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Aku ikut tersenyum lebar. Kayanya, sih. Seingatku. Apa muka ku waktu itu masih datar ya? Yang jelas, aku senang. Karena ternyata, meski matahari sudah terbenam, aku ga sendirian.
“Ngapain kalian di sini?” syukurnya ga terucap pertanyaan yang melintas pertama di otakku.
“I thought you were left,” ini respon yang normal.
“Pulang ke downtown, kan? Bareng aja,” ajaknya.
Kata mamah-mamah di TikTok, jangan ikut orang asing. Tapi hey, tubuhku bergerak lebih cepat ketimbang otak. Aku mengangguk dan ngintil mereka ke arah mobil sedannya di parkiran.
Farid membukakan pintu penumpang di depan. Kulihat dia melirik ke arah tiga temannya untuk duduk di belakang. Tiga pemuda yang dalam masa pertumbuhan duduk berhimpitan dengan senyum mengembang.
I felt sorry for them, but awww… they were so sweet. Mannernya bagus sekali, kaka-kaka.
“Kamu bilang, kamu suka Taylor Swift,” dia menyalakan musik di mobil sambil senyum memandangku. Lagu 22 mengalun. Aku balik tersenyum gugup.
Habisnya, pas ngobrol di taman, ditanya suka Taylor Swift ga. Aku bilang aja iya, padahal cuma tau lagu 22 yang selalu kudengar di coffeeshop.
Pas ditanya balik, kenapa lagu itu? Aku jawab aja, “same age,” saking ga tau apa-apa tentang musisi yang saat itu sedang naik daun. “Oya, I’m one year older,” ceunah.
“Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat,” kami turun dari mobil. Menuju sebuah lahan dengan bangunan yang tampaknya belum jadi dan terbengkalai. Hanya ada lantai beton dan tiang-tiang beton dengan kawat bangunan yang keluar di ujung tiang. Tembok yang berdiri hanya di satu sisi. Tanpa atap.
Mural menghiasi dinding dan tiang-tiang beton. Sungguh artsy.
“Selain di taman tadi, kami juga sering nongkrong dan latihan di sini,” kami kembali berbincang sembari menonton mereka backflip. Enggak. Aku ga ikutan backflip. Tapi aku tidak merasa terabaikan.
Reruntuhan yang tampaknya terabaikan ini, ternyata masih punya arti. Ga semua orang bisa memandangnya punya nilai lebih atau mengubahnya menjadi lebih bernilai.
“Ada satu tempat lagi. Tempat favorit kami makan malam,” kata Farid.
Tak jauh dari sana, mereka mengajakku ke kedai pasta. Kaya pasta rumahan, enak. Sembari kami ngobrol banyak. Tentang parkour dan teman nongkrong. Tentang tinggal di kota ini. Tentang Budi, Bambang, Bastian, dan inside jokenya. Tentang ibu teman-temannya yang memercayakan anaknya ke Farid. Bahkan, ibunya Bastian sempat menelepon Farid. Basically, he’s babysitting his friends. And we laughed a lot.
Kamu berada di tengah orang asing. Mendengar cerita yang bukan bagian dari hidupmu. Tapi anehnya, kamu tidak merasa tersisih.
Aku terbiasa sendiri. Free spirit yang menclak menclok ke sana ke mari. Kunang-kunang yang hinggap di satu dahan, mematikan lampunya, dan tau-tau pergi ke dahan lainnya.
Mungkin itu sebabnya kali ini terasa berbeda.
Ternyata aku tidak keberatan, ketika ada yang menjaga sebentar.
Bahkan ketika mereka hanyalah strangers.
-el
Leave a Reply