Koru & The Art of Coming Back

I was resentful. If my life theme is always ‘the beginning’, then how tired my life can be.

“Aku mau balik. Mau dibawain apa?”
kata seorang sahabat yang sedang menyelesaikan studinya di New Zealand.

Tanpa banyak berpikir, aku mencari oleh-oleh khas negara itu. Aku menemukan craft jade pendant khas suku Māori. Ada banyak bentuk, masing-masing membawa makna. Aku tidak membaca satu pun penjelasannya. Aku memilih bentuk spiral. Koru, mereka menyebutnya.

Tentu saja yang tiba adalah versi suvenir, bukan jade.
Tapi sangat, sangat cantik.

A silver pendant, with an ocean-blue swirl as an accent.

Not long after that, things happened.

Everything changed.
Something in me opened.
Rearranged.
And was sent back into the world.

I didn’t come back broken.
I came back aware.
Dan kesadaran itu tidak datang sebagai pencerahan megah.
Ia merayap masuk, perlahan, diam-diam


2019 – The One where I Kept Standing Back Up

Setelah dilarang bepergian dengan pesawat selama 6 bulan. Kuajukan cuti sedikit panjang dan izin WFA.

Aku pergi ke Bangkok, menemukan kebiasaan-kebiasaan baru seperti akhirnya bisa makan yogurt plain & strawberry jam, setelah dicekoki sarapan homemade itu selama beberapa pekan.

Hari-hariku di sana sederhana: berjalan kaki.
Each step accompanied by gratitude.
Terbayang saat aku baru saja kembali ke dunia fana ini, jalan lurus aja susah kaya orang habis nyimeng.

Bangkok bukan kota baru bagiku, jadi aku melewatkan tempat-tempat wisata.
Aku hanya ke tempat-tempat biasa di sekitar penginapan.
Salah satu tempat yang kutemui adalah kafe-museum bertema kelahiran dan kematian.
Sangat biasa sekali, bukan? hahhaha.

Aku disambut replika tengkorak dengan ukuran asli yang duduk di taman dan janin yang menggantung. Aku tertegun.

Kehidupan itu keajaiban.
Dan kematian adalah kepastian.
Keduanya pantas dirayakan.

***

Aku singgah sebentar di Singapura. Saat itu, Changi sedang mulai promosi wisata bandara. Jadilah aku ngebolang tanpa arah.

Tempat itu terasa artifisial.
Tapi di saat yang sama, it feels ‘real’.

Tanpa sengaja, aku melihat kebun bunga matahari.
Dia tumbuh di area yang tidak terlalu luas, tapi tetap berdiri tegak, penuh.

Lama aku menatap bunga-bunga itu.
Seperti ada secercah cahaya yang masuk.
How to keep a sunflower?
How to be a sunflower?
Kuacinya tu yang mana si?
Apakah aku sekarang Hamtaro?

Sebelum otakku semakin random, aku pun terbang ke Bali.
Why? No idea. I’d been going back and forth there since high school, always without a plan.

***

I booked a room in a resort.
Dengan balkon yang menghadap langsung ke pantai.
Ternyata lagi ada wedding party dan pemandangan pantai di kamar terhalang tenda kawinan. Pantas, murah.

There was a complimentary perk, discounts at the beach club during peak hour, single bed only. I went anyway.
Wearing an oversized, thick red hoodie, I chose the farthest bed from the crowd.

“Beneran ka, mau di sini? itu masih banyak yang kosong di depan. Pemandangannya lebih bagus,” kata mas mas beachclub yang tampak khawatir melihat orang aneh ini.

“Gapapa mas, sepi,” aku pun rebahan sambil memandang langit.
Sunsetnya indah. Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, aku tidak merasa asing.

Lalu aku terlelap.

2020 – The One with the Dark Room & No Stars

Selama kamu hidup, realita akan selalu menamparmu.
Tinggal pintar-pintarnya kita.
Menerima tamparan dengan tangisan, atau tangkisan. Atau kasih pipi kiri kanan, lalu tertawa dengan gila.

COVID melanda.
Bahkan saat pembatasan dan WFH pun, tetap terjadi drama.
Di suatu malam setelah banyak menangis, aku melihat langit-langit kamar.
Sejak kejadian itu, aku tambah sensitif dengan cahaya. Kamarku gelap. Hanya ada semburat cahaya remang dari lampu di luar.

“Liat, Li. Banyak bintang-bintang hahaha,” gelak teman kuliahku membuyarkan lamunan. Di langit-langit kamar, terpasang stiker bintang ‘glow in the dark’. Ia selalu membawa candaan ini beleum tidur, setiap menginap bersama.

Pernah juga aku tidur di bawah langit malam. Bersama beberapa kawan satu hobi. Hobi berpura-pura di panggung sandiwara saat SMA.
Tanpa kami tau sebelumnya, ada bintang-bintang jatuh.
“Kita kaya Meteor Garden ga si,” kata salah satu bocah yang merasa dirinya Tomingse.
Aku menaikkan tangan, dengan telapak tangan ke langit. Random aja, pegel.
Ada yang bilang, “Tangan Lia kecil, coba bandingkan sama tanganku.”
Telapak tangan kami pun bertemu, dilanjut dengan celetukan, “Ih, kaya Tarzan.”
Sebuah insult yang seperti teguran dan membawaku kembali ke realita.

Sayangnya, kali ini tidak ada bintang-bintang yang glow in the dark atau langitnya Meteor Garden. Hanya langit-langit kamar yang gelap.

Let’s move, or I will die.

Aku pun merencanakan keberangkatan, dan berkemas.

2021 – The One where I was Basically Zombie but Functioned Anyway

Hampir setahun aku di Bali.
Meski semua yang bergerak di sekitarku terlihat blur, layaknya berdiri diam dalam timelapse, aku cukup puas bisa menjalani rutinitas dengan baik dan berinteraksi.

Misalnya, mendengar cerita keluarga ibu kos.
Setiap jalan pagi di pantai, ada uncle akan menyuruhku berjalan lebih semangat, ‘Morning, move!’.
Ada auntie dan anjingnya yang selalu menyapa.
Atau abang kolor ijo yang akan tersenyum dan mengangguk setiap kali kami berpapasan.

Aku suka ke pasar.
Aku akan ke warung, menggosip dengan ibu warung tentang orang gila yang suka lewat dan minta makan.
Aku akan mengambil jamu langganan, menggosip tentang kisah cinta pelanggan ibu jamu.
Kadang-kadang, aku ke sunday market buat beli kombucha atau homemade butter favorit, menggosip tentang bisnis sedang bagus atau tidak.

Tapi, ada satu rutinitas yang paling aku sukai.
Menatap langit, sambil sesekali menyesap kopi atau kombucha.
Bisa sampai 3 jam.
Hanya di waktu ini, aku merasa pandanganku lebih jelas.
Awan yang bergerak di siang hari, gradasi warna menjelang sunset, atau mengira-ngira pergeseran hex code langit malam.

I had no “new friends.”

Yet old ones asked to meet.
When I remembered their stories back then and saw who they had become, I felt relieved. They faced life. They survived.

I met coworkers too. It was nice.
But the crawling inside remained.
And it was exhausting.

I wanted to be fully aware, so I wouldn’t have to be that tired.

2022 – The One where Coincidence Wasn’t Coincidental

Aku kembali ke rumah. Untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, aku di rumah lebih dari sebulan. 3 bulan, hehe. Sebuah achievement.

Thank you to everyone who showed up suddenly.
Who picked me up without warning.
Invited me to exercise, WFC, coffee, homes.
People who seemed sudden, but had been familiar for over a decade.

Sebagai yang tidak bisa memaintain dan membangun koneksi, masih dikontak dan diajak main sama yang 5, 10 tahun ga ketemu, adalah pencapaian.

Bertemu banyak muka yang familiar. Yang melihatku dengan tatapan yang sama seperti yang pernah kukenal. Melegakan.

I returned to Bali with eyes slightly more open.

Hitsuzen dan Guzen pun mulai bermain. Long story short, realita kembali menampar dengan cara yang hampir tidak masuk akal.

I broke down.
Crying in front of the pitch-black sea.
Feeling so faithless, lost under the surface, kalau kata Linkin Park.
But I lived anyway.

Another day, at sunset, I sat beside my friend’s mother visiting Bali.
She talked about her family. Her children. Her nephews who almost perfect, yet unmarried.

“Lihat dia, ganteng, mapan, pinter, bodynya bagus. Kenapa dia belum menikah ya…” kata si tante sambil memalingkan wajah padaku. Yang aku balas dengan senyuman penuh pengertian dan anggukan pelan look-at-me-but-I’m-not-as-lucky-as-your-nephew.

“… masalah orang beda-beda, ya,” kata si tante melanjutkan dengan nada selembut kapas.

“Tante, kayanya aku mau pulang aja deh,” kataku random yang disambut dengan tepukan di punggung dari seorang ibu.

2023 – The One Where I Hid Behind Broad Shoulders and Learned to Be Human

Another achievement. Seven months at home.
Still occasionally kidnapped by friends, sometimes across provinces.
I cheered for their lives moving forward.
But I realized something: I had taken them for granted.
I never truly thanked their presence.

Yet the fact that they were still here, laughing, sharing stories was enough proof.

Sometimes news reached me without intent.
I knew how they struggled. Survived. Moved on.
So it was time for me to move on too.

With many agendas this year.
Gatherings, weddings, travels.
I took this chances to meet people with new attitude.
Be kind~ like normal people. Not a 10-minute-energy one.

At gatherings with 50 people, my chest tightened.
Breathing hurt. I wanted to vomit.
Thanks to some of them that gave me space.
Some offered small talk.
Some had broad shoulders tall enough for me to hide behind.

I trained. One-on-one meetings. Groups of two, three, four. Until eight-person groups.

Sampai suatu hari seseorang berkata,

“Kamu sekarang lebih… manusia.”

With that confidence, I attended two best friends’ weddings, without wanting to throw up.

Win.

2024/2025 – The One Where I Actually Clicked ‘Register’

Another milestone. Over a year at home.
I rested. Still being picked up and taken around.
I no longer felt nauseous meeting new people.
I could attend my mom’s reunion. Talk to aunties.

But I knew, I wasn’t complete yet.
A fragment of me was still missing.
And it wanted to be found.
Just because. Maybe am bored at home.

Lalu aku kembali ke Bali.

Temanku yang ada sejak 23 tahun lalu berpesan,
“Kali ini, jangan aneh depan orang, please.”

I forgot immediately.

Agendas? None. Friends? Apalagi.

Dulu waktu di Bali pas kaya zombie, malah banyak banget yang nyamper. Sekarang, aku yang sedang lucu-lucunya baru hidup ini malah ga ada satu teman pun yang datang.

Yet I was happy. I saw the same sky more clearly than in the last six years. I remembered faces, places.

The cat sleeping in the parking lot.
The dog that peed in front of me.

The Indomaret Point barista who knew my morning order.
Cashiers who knew I’d forget my heated onigiri.
I remember the beach gate guard.
Aku juga bisa ingat abang-abang yang akan main rock paper scissor sama adek-adek yang habis itu minta duit.

Then I met old coworkers.
We talked. Laughed. Caught up.
And as I watched us talk,
I realized the fragment I came back for.
I placed it back. Figured out how to make it work.

“Aku mau pulang. Tapi sebelum pulang, aku harus menunaikan KPI, bersosialisasi. Aku akan daftar temu komunitas.”

“Lu mau ikut komunitas apa?”

“I don’t really know. It keeps appearing on Threads. Multiple times. It keeps calling me. Fine. I’ll register.”

So I clicked.

And for the first time in more than six years, my nervous system remembered how to exist without being nervous.


That morning by the sea, I saw the Koru pendant on my wrist.

Koru symbolizes growth and harmony, the cycle of life and new beginnings.
Its outer coil represents perpetual movement.
The inner coil returns to origin.
Between chaos and calm, there is equilibrium.

The six year story is complete.
And I’m ready for the next cycle of Koru.

2025
-el

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *